Kamis, 26 April 2012

Bermimpi Yuk,,!



Mungkin anda bertanya mengapa harus  bermimpi? Memang, mimpi itu  kembangnya tidur dan bukankah kita harus realistis?  Memang mimpi hanyalah sebuah mimpi. Namun ada sebuah hikmah
“bermimpilah kamu sebelum kamu jadi pemimpin.”serta
“belajarlah kamu sebelum kamu menjadi pemimpin”


Ternyata banyak orang-orang besar, pemimpin besar yang berangkat dari seorang yang pemimpin. Jadilah seorang pemimpin untuk menjadi seorang pemimpin besar.  Memang kenyataannya, kita akan kehabisan stok stok pemimpin kalau tak ada yang berani bermimpi dan bercita-cita besar. Tapi anehnya, kadang untuk bermimpi dan bercita-cita saja takut apalagi untuk meraihnya. Iya kan?
Filosofi Cita-Cita…
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa”keluhuran cita-cita adalah bagian dar keimanan.”Karena orang yang punya cita-cita mulia, obsesi tinggi, tujuan luhur tentunya dia takkan menjerumuskan dii dalam kehinaan, dari kemiskinan, dan dari kenistaan. Karena itulah bermimpilah dan bercita-citalah setinggi bintang. Cita-cita besar adalah tanda kehidupan jiwa, indikasi sukses orang-orang besar, pintu kebahagian siapa saja disebabkan jiwanya selalu tebuka, berpikir, dan berjiwa besar
Cita-cita besar itu ibarat dynamo yang mengerakkan arus positif dan arus negative yang mengontrol tubuh anda. Cita-cita besar ibarat bahan bakar. Memacu kendaraan untuk maju, melesatkan kereta dengan cepat. Begitu banyak dan begitu penting untuk menjadi besae dengan cita-cita besar. Tapi jangan sekali-kali merasa besar. Karena merasa besar akan menumbuhkan penyakit jiwa, menyebabkan sengsara dan pembawa derita. Sedang menjadi besar membawa bahagia.
Beikut ini sekedar contoh cita-cita dunia. Silahkan direnungkan: Sudahkah kita memiliki dan meraihnya? Cita-cita ini boleh dicontoh lho.
·         Memiliki hati yang bersih. Karena ia merupakan modal segala modal sebelum yang lainnya.
·         Dapat mampu beribadah dengan baik dan benar sebagai raa syukur dan membuka pintu-pintu kebaikan dan kebahagian yang lebih besar.
·         Memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebuhutuhan sehari-hari dan meghindarkan diri dari kehinaan.
·         Memiliki pekerjaan dan dapat meningkatkan kualitas pekerjaan dan karir serta penghasilan.
·         Terjaga kesehatan sehingga bisa merasakan kenikmatan hidup. Karean kesehatan merupakan harta yang tak ternilai harganya dan mahkota yang luhur derajatnya.
·         Memiliki peningkatan keuangan dan rasa aman dari tekanan hutang dan kekuasaan orang lain.
·         Memiliki kendaraan yag baik.”Empat sebab kebahagian mukmin adalah rumah yang luas, kendaraan yang lancer, lisan yang selalu bersyukur dan istri sholihah.
·         Memiliki ketenangan jiwa, keteguhan hari, dan kepercayaan diri sehingga dapat dengan tulus mempercayai orang lain dan mendapat kepercayaan yang baik.
·         Bisa diterima dalam pergaulan shari-hari karean diakui memiliki kepribadian yang baik dan dapat bergaul dengan orang lain.
·         Miliki kebebasan dalam menentukan sasaran dan arah hidup, serta keteraturan program diri. Bebas megaktualisasikan diri dan mengekspresikan kepibadiannya dengan baik.
·         Mendapat limpahan cinta dan penhargaan dari orang sekelilingnya. Selalu dalam semangat untuk dicintai dan mencintai.
·         Memiliki waktu-waktu yang luas untuk berkarya dan menuangkan gagasan menjadi amalan unggulan disertai rasa tanggang jawab yang besar.
·         Memiliki jaingan luas dalam pergaulan, banyak memiliki kawan dan erat dalam persahabatan.
·         Menjadi pribadi yang excellent, dibutuhkan dan diperhitungkan untuk berperan. Tetapi siap juga menerima orang lain menjadi pemimpin. Inilah makna hikmah “tawaddhu dalam kebenaran”.
·         Mampu berjihad di jalan Allah dengan segenap potensi yang dimilikinya.
Itulah beberapa contoh cita-cita sederhana. Tentu masih banyak cita-cita yang tercecer didunia ini. Seperti cita-cita Reza M. Syarif menjadi mantan pilot yang kini banyak menggali keativitas dakwah dan pelatihan untuk menghadirkan pribadi-pribadi pilihan. Begitulah kehidupan itu adalah keniscayaan, kematian itu pasti dan cita-cita mulia itu adalah pilihan dan setiap pilihan ada resiko yang haru”dibayar”.
(Zero to Hero Karya Solikhin Abu Izzudin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar